• Daftar isi
  • Rabu, 25 Januari 2012

    PERANG FISIKA


    Salah satu kebiasaan manusia yang dari dulu tidak hilang-hilang adalah
    perang. Berbagai cara dilakukan untuk memenangkan perang. Salah satunya
    adalah mengeksploitasi fisika untuk memenangkan perang (kasihan sekali fisika
    disalahgunakan....). Mau tahu gimana fisika diekploitasi? Ikuti ceritanya yuk...
    Perang jaman dulu
    Jaman baheula (3000 tahun SM) orang berperang dengan menggunakan
    tombak, gada, panah dan lain-lain. Dalam membuat senjata-senjata perang, tanpa
    sadar nenek moyang kita ini menggunakan konsep fisika. Sebut saja tombak,
    ujung tombak dibuat selancip mungkin, karena menurut fisika semakin runcing
    suatu benda, semakin besar tekanannya sehingga semakin mudah tombak itu
    menembus tubuh musuhnya. Melempar tombakpun membutuhkan fisika. Seorang
    yang melempar tombak harus tahu kira-kira dengan kecepatan berapa dan dengan
    sudut lontar berapa tombak harus dilemparkan agar tombak itu mengenai
    sasarannya dengan tepat.
    Lain tombak, lain pula gada. Gada berhubungan dengan fisika ayunan.
    Untuk mendapatkan hantaman yang kuat, gada harus diayun secara cepat (dengan
    energi kinetik yang besar). Energi besar yang kita berikan pada gada ini dapat
    merusakkan kepala atau dada musuh (iih ngeri amat yah...).
    Terus gimana dengan panah? Saat kita menarik tali busur, energi yang kita
    berikan disimpan dalam busur itu. Selanjutnya ketika anak panah dilepas, energi
    ini akan dipakai oleh anak panah untuk melesat cepat menuju sasaran... (ck...ck...
    hebat juga yah kemampuan fisika nenek moyang kita).
    Perang Dunia I
    Dalam Perang Dunia I orang sudah mengenal berbagai senjata modern
    seperti senapan mesin, granat, pistol dan lain-lain. Senjata-senjata ini
    dikembangkan dengan menggunakan prinsip fisika supaya menghasilkan senjata
    yang lebih nyaman digunakan dan lebih efektif untuk memenangkan perang.
    Senapan mesin, misalnya, sudah digunakan sejak tahun 1914. Waktu itu
    senapan mesin ini masih sangat primitif. Bayangkan saja, berat senapannya saja
    bisa mencapai 40-60 kg! (berat amat...) Biasanya senapan ini diletakkan di tripod
    (penopang kaki tiga) dan dioperasikan oleh setengah lusin operator. Repot sekali
    ya! Disamping itu senapan ini mudah menjadi panas. Kalau sudah panas, senapansenapan
    mesin ini jadi tidak bisa digunakan lagi. Karena itu biasanya sederetan
    senapan mesin dibariskan berdekatan supaya bisa menembak secara bergantian.
    Pada waktu itu para fisikawan diminta untuk menyempurnakan desain awal
    senapan mesin ini, misalnya dengan memasang sabuk berisi air pendingin untuk
    mencegah pemanasan yang terlalu cepat, dan mengganti material yang digunakan
    dengan bahan yang lebih ringan. Yang lebih pintar dan canggih fisikanya punya
    kesempatan lebih besar untuk memenangkan perang.
    Gambar 1 Senapan mesin pasukan Rusia
    Perang Modern
    Perang modern (termasuk Perang Dunia II) lain lagi ceritanya. Perang ini
    jelas-jelas disebut sebagai perang fisika. Pada saat Perang Dunia II perkembangan
    fisika sedang hebat-hebatnya dan aplikasinya sangat membantu desain
    persenjataan dan mesin perang modern, dari penemuan teknologi radar sampai
    pembuatan bom atom dahsyat yang meledakkan Hiroshima dan Nagasaki.
    Teknologi radar (radio detection and ranging) lahir sejak awal abad ke-20,
    tetapi perkembangannya baru mulai terasa pada tahun 1930-an dengan
    ditemukannya beberapa alat pendukung seperti alat pemancar dan penerima
    sinyal, modulator (untuk menciptakan pulsa mikrodetik), dan tabung sinar katoda
    (itu lho tabung yang ada dalam televisi...) untuk menampilkan hasil yang diterima.
    Prinsip dasar radar sangat sederhana. Mula-mula radar memancarkan gelombang
    radio, kemudian gelombang ini akan dipantulkan oleh benda yang akan dideteksi.
    Nah gelombang pantul akan diterima oleh stasiun penerima untuk ditampilkan
    dalam layar monitor. Posisi benda dapat ditentukan dari lamanya sinyal tersebut
    merambat kembali ke stasiun penerima, begitu juga bentuk dan ukurannya.
    Gambar 2 Cara kerja E-8 JSTARS: Sinyal radar dipancarkan ke tank musuh(1).
    Hasil pemantauan radar dikirim ke tank dan pesawat tempur (2) serta kapal perang (3).
    Dalam perang modern, Radar dipakai untuk mengintai pesawat-pesawat
    musuh yang menyelinap untuk melakukan serangan pada malam gelap. Musuh
    yang tadinya mau memberi serangan kejutan malah dikejutkan karena pasukan
    yang akan diserangnya justru sudah siap menyambut kedatangannya! Pada Perang
    Teluk, Amerika menggunakan E-8 Joint Surveillance Target Attack Radar
    System (E-8 JSTARS) yang bisa mendeteksi sasaran dari ketinggian 12,5 km
    dengan luas sasaran 43500 km2.
    Para ahli perang pada Perang Dunia II sadar bahwa teknologi radar saja
    tidak mampu memenangkan perang. Untuk memenangkan perang harus
    dihasilkan suatu mesin perang yang dahsyat. Maka dibujuklah para fisikawan
    untuk membuat bom atom yang dahsyat. Ada fisikawan yang menolak tetapi ada
    pula fisikawan yang terbujuk karena ingin menghentikan kejahatan Hitler. Ernest
    Orlando Lawrence, pemenang Nobel Fisika tahun 1939, Oppenheimer, Feynman
    dan beberapa fisikawan lain bersedia membuat bom dari inti atom uranium (U-
    235). Ketika inti atom U-235 ditembak oleh netron maka dihasilkan suatu reaksi
    berantai yang menghasilkan energi yang sangat dahsyat dan mampu
    menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki.
    Gambar 3 Ledakan Bom Atom di Nagasaki
    Teknologi Stealth, Laser, dan Infra Merah
    Dalam perang teluk tahun 1991, Amerika memunculkan suatu teknologi
    baru Stealth.
    Gambar 4, Stealth memantulkan gelombang dari Antenna.
    Teknologi stealth diilhami oleh Sun Tzu seorang jenderal perang yang
    sangat hebat strategi perangnya pada zaman Cina kuno. Menurut Sun Tzu semua
    perang adalah pengelabuan (all war is deception). Kalau mau menang perang kita
    harus pandai mengelabui musuh. Salah satu cara untuk mengelabui musuh adalah
    membuat pesawat kita tidak terdeteksi radar. Caranya adalah dengan membuat
    pesawat stealth dari bahan yang dapat menyerap sebagian besar gelombang radar.
    Dan dimuka pesawat dibuat segitiga-segitiga lancip yang dapat memantulkan
    sisa gelombang yang tidak terserap, menjauhi antenna radar. Karena tidak ada
    gelombang yang kembali ke pemancar radar maka pesawat tidak akan terdeteksi
    oleh radar.
    Gambar 5 Pesawat stealth Bird of Prey yang lincah dan bisa ‘menghilang’
    Walaupun sudah cukup canggih, teknologi stealth ternyata punya juga
    kelemahan. Pesawat stealth yang ada sekarang ini masih bisa terbuka kedoknya
    saat hujan turun (partikel air hujan menyingkapkan bentuk pesawat yang tidak
    terlihat itu) atau dengan menggunakan perbandingan sinyal handphone (sinyal
    handphone yang tiba-tiba hilang menunjukkan bahwa di dekat sana ada pesawat
    stealth yang menyerap sinyal itu). Sampai sekarang Amerika masih terus
    memperbaiki kelemahan pesawat itu.
    Disamping teknologi Stealth, para fisikawan juga diminta untuk membuat
    senjata perang dengan teknologi laser dan infra merah. Misalnya F-117A
    Nighthawk yang diselimuti teknologi stealth merayap di angkasa dalam kegelapan
    malam, mengintai dengan bantuan sensor infra merah dan menjatuhkan bom yang
    diarahkan dengan laser. GBU-28 Bunker Buster yang mampu menembus markas
    lawan di bawah tanah dan meledakkannya dengan bom yang juga diarahkan oleh
    laser sehingga tepat pada sasarannya.
    Gambar 6 Cara kerja GBU-28 Bunker Buster: Sinar laser ditembakkan ke target (1). Pesawat
    melepas bom pintar (2). Sinar laser yang dipantulkan target akan dideteksi oleh bom pintar (3) dan
    mengarahkan bom pintar ini untuk menghancurkan gudang persenjataan musuh di bawah tanah
    (4,5).
    Mesin Perang ‘Mematikan’ yang Tidak Mematikan
    Satu perkembangan mesin perang terbaru adalah diciptakannya E-Bomb,
    suatu bom berbahaya yang tidak membunuh manusia. Wah yang ini pasti seru...
    gimana cara kerjanya?
    E-Bomb merupakan bom yang menggunakan teknologi High Power
    Microwave (HPM) yang dirancang untuk menghancurkan peralatan-peralatan
    elektronik tanpa membunuh manusia. Melalui induksi elektromagnetik, alat ini
    mampu menghasilkan arus hingga puluhan juta Ampere dengan puncak energi
    mencapai puluhan juta Joule! Dahsyat! Petir saja hanya menghasilkan arus
    sebesar 30000 Ampere!
    Pihak militer Amerika menggunakan e-bomb ini untuk menembus markasmarkas
    bawah tanah, yang letaknya tepat di bawah fasilitas umum seperti rumah
    sakit yang tidak mungkin dibom atom, dengan menggunakan pipa-pipa
    pembuangan, saluran bawah tanah, dan kabel-kabel, supaya tidak membahayakan
    kehidupan penduduk di atasnya. Sasarannya hanya peralatan elektronik yang
    pastinya akan hancur dan tidak berfungsi lagi jika terkena arus sebesar itu. Jadi
    bom ini sama sekali tidak mematikan manusia, tetapi mematikan elektronika yang
    menjadi tulang punggung mesin-mesin perang.
    Nah sebenarnya cerita tentang mesin perang ini masih panjang sekali. Banyak
    senjata-senjata pemusnah yang lebih seram seperti bom hidrogen atau bom nuklir
    yang kekuatannya ratusan kali bom Hiroshima dsb. Ngeri deh melihat bagaimana
    fisika diekploitasi untuk membunuh manusia dan memenangkan perang. Jika
    fisika terus menerus diekploitasi seperti ini maka hal yang sangat mengerikan
    sedang menanti kita semua, seperti apa yang dikatakan Einstein: "I know not with
    what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with
    sticks and stones." Tetapi sebaliknya jika fisika diarahkan ke arah yang positif
    maka dunia akan semakin sejahtera. Benarlah seperti apa yang dikatakan oleh
    William Gibson, “I think technologies (or physics) are morally neutral until we
    apply them. It’s only when we use them for good or for evil, that they become
    good or evil” (Yohanes Surya).

    Link : www.yohanessurya.com

    1 komentar:

    1. wah,mengerikan..semoga Indonesia tercinta tetap damai.

      BalasHapus